Permulaan sejarah Islam akan kembali kepada masa-masa di mana Nabi Muhammad Saw beribadah terhadap Dzat yang dicintainya di gua hira. Nabi Muhammad Saw dalam beberapa waktu lamanya dalam setiap tahun pergi ke gua Hira untuk menyepi dengan Tuhannya dan bertafakur atas segala masalah[1]. Pada suatu hari ketika Muhammad tengah sibuk dengan munajat-munajat yang ia lantunkan, tiba-tiba terdengar suara,
“Wahai Muhammad, bacalah!”
“Apa yang harus kubaca?”
“Iqra, Bismi Rabika ladzi khalaq… “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Qs. al-Alaq 1-5)
Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah Saw, Allah Swt mengutusku supaya menyampaikan bahwa engkau telah diangkat menjadi nabi bagi kaum ini.
Maka malaikat pembawa wahyu ini pun membacakan 5 awal surat al-Alaq dan kemudian, Nabi pun membaca ayat itu.[2] Peristiwa bersejarah ini terjadi pada 27 Rajab empat belas abad silam hari dimana ketika Muhammad Saw untuk pertama kalinya mendapat mandat untuk memikul tugas menyampaikan risalah terakhir dari Allah Swt kepada seluruh umat manusia. Hari ini oleh mazhab Syiah disebut sebagai hari mab’ats yaitu hari deklarasi Jibril kepada Muhammad sebagai utusan dan pembawa risalah Allah Swt.
Setiap kali kita menemui suatu kejadian, maka kita dengan sendirinya akan bertanya-tanya sebenarnya untuk apa nabi diutus kepada manusia. Kalau kita renungkan sejenak, dalam diri kita telah ada keinginan macam-macam yang semuanya itu memerlukan kepada pemenuhan setiap semua kehendak itu. Allah Swt telah menyediakan sarana-sarana guna memenuhi kebutuhan asasi manusia sehingga ia bisa memenuhi kebutuhan asasinya dan juga bisa memenagkan atas nafsunya . Dua petunjuk disediakan bagi manusia dengna maksud supaya ia bisa membedakan antara yang benar dan salah. Satu sarana itu berada dalam diri manusia yang bernama akal dan yang lainnya adalah Nabi-nabi yang telah diutus oleh Allah Swt, di mana para nabi ini, melalui wahyu yang telah diterimanya dari Allah Swt berkewajiban untuk memberikan petunjuk dan cara-cara bagaimana manusia menjalani kehidupan di dunia ini dan mengajarkan segala tingkah laku yang benar kepada manusia.
Untuk menjadi petunjuk dan pemandu bagi manusia, selain harus suci dari segala kesalahan dan dosa ia juga harus menerima wahyu dari Allah Swt. Dan hal ini tidak akan dicapai kecuali melalui jalan bi’tsat. Oleh karena itu, bi’tsat Nabi adalah nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah Swt kepada manusia. Dan karena nikmat yang tak terhingga nilainya inilah, pantas saja kalau Allah Swt bakal memintai pertanggungjawaban atas nikmat yang telah dianugerahkan kepada manusia itu. “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan utusan) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata..” (Qs Ali Imran: 164).
Kalau seorang muslim menanggung masalah dan kerugian karena penerimaannya terhadap agama islam, maka jangan lupa bahwa Allah Swt telah menganugerahkan nikmat yang paling besar yaitu telah diutusnya Nabi Muhammad Saw yang akan mendidik manusia dan akan mengeluarkannya dari segala kesalahan dan kesulitan yang melilit kita.
Tidak ada salahnya bagi kita untuk menilik kembali bagaimana keadaan masyarakat Arab ketika Nabi diangkat menjadi Rasul. Ketika Nabi diutus, masyarakat Arab ketika itu, bukannya mereka tidak mempunyai kemampuan untuk membaca dan menulis atau pun juga tidak berkebudayaan yang tinggi. Mereka adalah masyarakat yang mempunyai kecerdasan untuk menuliskan syair-syair mereka sebagaimana yang dapat kita jumpai dalam buku-buku syair Arab. Mereka mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam menuliskan syair-syair mereka dan kemudian meletakkan syair-syair itu di dinding Ka’bah dengan memberikan identitas atas nama-nama kabilah mereka.
Namun arti jahiliyah adalah kondisi masyarakat Arab yang tidak menggunakan otak kemanusiaannya dalam memandang makna dan hakekat kehidupan, tidak menghormati wanita, perang antar kabilah dan pekerjaan-pekerjaan tidak berperikemanusiaan lain yang menghiasi kehidupan mereka seperti tidak lagi menjalankan ajaran-ajaran tauhid. Sebagian masyarakat pada waktu itu adalah Yahudi, sebagiannya lagi adalah Masehi dan kelompok yang lainnya adalah penyembah berhala. Mereka menjauhkan dirinya dari akhlak mulia, pekerjaan tercela mereka sampai berlanjut kepada penguburan secara hidup-hidup anak-anak perempuan mereka, mereka bangga dengan pekerjaan dosanya, tidak mengindahkan hak-hak orang lain dan tidak pula menegakkan keadilan. Mereka mengkonsumsi minum-minuman keras dan terjerembab ke dalam perbuatan-perbuatan tercela. Mereka sangat gemar untuk memuji dirinya dan berlaku sombong adalah pandangan sehari-hari di antara mereka, mereka menjadikan kemungkaran sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah-masalahnya dan berkata-kata batil seperti memberikan kesaksian palsu. Mereka menyembah kepada syetan dan melupakan Allah Swt. Pada saat itulah, di mana sifat-sifat masyarakat ketika itu tidak lagi mencerminkan sifat-sifat kemanusiaannya dan perilaku mereka lebih mirip dengan sifat-sifat binatang, bahkan lebih buruk ketimbang perilaku binatang-binatang sekalipun, Allah Swt mengangkat seorang rasul sehingga hujat bagi-Nya akan sempurna dan rahmat-Nya bagi seluruh penghuni alam akan tertebar dan akan menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Ya, Nabi Muhammad Saw, sang utusan pamungkas diutus pada masa di mana masyarakat yang mempunyai otak namun tidak menggunakan akal sehatnya secara sempurna. Nabi Saw diangkat dan diutus menjadi nabi terakhir sehingga ia menjadi suri teladan bagi masyarakat ketika itu dan masyarakat hingga akhir kehidupan.
Nabi Muhammad Saw telah mengeluarkan mereka dari keadaan gelap gulita menuju keadaan yang terang benderang. Kebodohan mereka telah diubahnya menjadi kepandaian, kedurjanaan mereka telah diubahnya menjadi kemuliaan, kezaliman mereka telah diubahnya menjadi keadilan, ketidakberakalan mereka telah diubahnya menjadi berakal, kekufuran mereka telah diubahnya menjadi keimanan.[3]
Nabi Muhammad Saw adalah jelmaan manusia sempurna. Tidak ada satu kitab pun yang tidak menyebutkan pembahasan tentang manusia sempurna, sehingga dalam kitab itu akan dijumpai nama agung Nabi Muhammad Saw dan Amirul Mukminin As sebagai manifestasi dari manusia sempurna. Nabi Muhammad adalah jelmaan semua sifat Tuhan dan juga gambaran nama-nama agung-Nya.
Menurut Imam Ali As, masyarakat Arab ketika itu adalah masyarakat yang selalu membawa dirinya kepada sifat-sifat kebinatangan dan Nabi Muhammad Saw datang untuk mengubah sifat-sifat dunia (binatang) ini menuju sifat-sifat langit (insani).
Penuturan yang sangat menarik disampaikan oleh Imam Khomeini, peletak dasar Revolusi Islam, beliau mengatakan bahwa Rasulullah Saw berhasil mendidik Imam Ali pada masa di mana masyarakat Arab berada pada masa jahiliyah. Ia adalah seorang yang pertama kali dalam menjawab panggilan Nabi Saw dan tercatat sebagai kaum termuda yang taat sepenuhnya kepada perintah maulanya.
Selamat atas hari bahagia ini, hari diutusnya Nabi Muhammad Saw menjadi nabi pamungkas, seorang manusia kamil yang menjadi panutan dalam perjalanan ruhani kita. Semoga pada hari peringatan dan perayaan kita kali ini akan mendapatkan keberkahan baik maknawi atau pun materi. Amin. []
Hari deklarasi kenabian Muhammad Saw, 27 Rajab 1430/20 Juli 2009 semoga menjadi hari bahagia buat Anda…
[1] . Hira sebuah nama gunung yang berada di sebelah utara kota Makah. Pada bagian utara gunung itu terdapat gua yang ketinggiannya kira-kira seukuran dengan tinggi manusia. Sebagian dari dalam gua itu bisa terang karena sinar matahari yang masuk ke gua itu, dan pada sebagian tempat yang lain dalam gua itu gelap.
[2] . Talkhish Tamhid, Jil. 1, Hal. 62
[3] . Al Muraqabat, Ayatullah Haj Jawad Maliki Tabrizi, Hal. 158-160



Di antara penggalan doa Sayidah Zahra: “Ya Allah sesungguhnya Aku memohon kekuatan untuk beribadah kepada-Mu, kejelasan tantang Kitab-Mu, serta pemahaman akan hukum-Mu. Ya Allah, salawat senantiasa tercurah bagi Muhammad Saw beserta keluarga sucinya, Janganlah kau jadikan Al-Qur’an jauh dari jangkauan kami, jembatan menjadi tempat tergelincirnya kami, dan jangan jadikan Muhammad Saw beserta keluarganya berpaling dari kami.” Balad al-Amin, hal. 101 

There are no responses yet