Alangkah agungnya Revolusi yang engkau ciptakan wahai Husain,
Menerangi pemikiran dan hati, wahai Husain;
Melaluinya, umat manusia dibebaskan;
Melaluinya, bersemi kasih dan cinta;
Melaluinya, dunia bermandikan cahaya;
Dalam sebuah hadis dinukil sebuah riwayat yang menegaskan bahwa Muhammad Saw dan Ali As berasal dari cahaya yang satu. Cahaya Muhammad dan Ali merupakan turunan dari cahaya Tuhan. Mereka disimbolkan sebagai cahaya, dalam hadis tersebut, sebagaimana Tuhan yang menurut kitab suci adalah Cahaya langit dan bumi. Cahaya Tuhan, cahaya Muhammad dan Ali merupakan cahaya yang satu bergradasi. Titik konvergensi mereka adalah cahaya sebagaimana titik divergensinya. Dalam kamus Mulla Shadra, Tuhan dicitrakan sebagai Wujud. Wujud itu berderajat dan bergradasi. Dan Tuhan merupakan Wajibul Wujud, Wujud Segala wujud. Atau meminjam bahasa Syaikh Isyraq yang menyebut, Tuhan sebagai Cahaya segala cahaya, Nur al-Anwar. Cahaya Tuhan, yang juga bergradasi dan berderajat, kemudian setelah itu Cahaya Muhammadi (yang termasuk di dalam cahaya itu adalah Ali dan 11 keturunannya yang suci). Lantaran mereka adalah cahaya yang satu. Read More »
Imam Kedelapan, Imam Ali ar-Rida As, sangat masyhur karena kemurahannya. Terdapat banyak riwayat tentang hidupnya yang menyebutkan watak pemurahnya. Ketika kita mengkaji riwayat-riwayat ini, kita dapat mengambil pelbagai pelajaran dari Imam Ali ar-Ridha As. Meskipun ia tidak berada di hadapan kita, ia masih tetap mengajarkan dan membimbing kita melalui ucapan-ucapan, amal dan perbuatannya. Suatu hari, seorang datang kepada Imam Ridha As dan meminta sesuatu kepadanya sesuai dengan keluasan kebaikannya. Imam Ali ar-Ridha berkata, “Aku tidak dapat menyanggupi permintaanmu itu.” Lalu orang itu berkata, “Kalau begitu, berikanlah sesuai dengan keadaan diriku.” Maka Imam Ali ar-Ridha As meminta budaknya untuk memberikan uang sebanyak dua ratus Dinar kepada orang itu. Read More »
Fana merupakan kata yang diserap dari bahasa Arab dan secara leksikal bermakna tiada atau binasa.[1] Dalam terminologi Irfan, fana disebutkan sebagai tenggelamnya seorang hamba dalam samudera Ilahi. Sedemikian karamnya sehinggga kemanusiaan seorang hamba lebur dan sirna dalam rububiyah Tuhan.
Untuk menjelaskan duduk perkara dari apa yang dijelaskan sebelumnya kiranya poin-poin berikut ini perlu mendapat perhatian:
-
Sebagaimana kita tahu bahwa Allah Swt, dengan kehendak-Nya yang penuh hikmah, sedemikian Dia mencipta manusia sehingga sepanjang hidupnya, senantiasa berpikir bagaimana dapat sampai kepada kesempurnaan mutlak dan melalui kehidupan yang transient tersebut ia dapat menembus batas keabadian. Untuk dapat sampai kepada tujuan ini maka ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan dan membuang-buang waktu. Ia senantiasa berupaya mendapatkan apa yang tidak ia miliki dan tatkala ia meraihnya, kecendrungan dan hasratnya kepada sesuatu yang lebih baik dan lebih sempurna pada dirinya senantiasa bergelora. Hasrat ini akan terus-menerus menghantuinya sebagaimana dalam syair Hafiz: Read More »
Pada masa Imam Keenam , Imam Ja’far Sadiq As, hidup seorang yang bernama Zakariyyah yang baru saja meninggalkan agamanya yang dulu, Kristen dan memeluk Islam.
Tatkala Zakariyyah berangkat untuk menunaikan ibadah Haji, ia berhenti di Madinah untuk menjumpai Imam Ja’far Sadiq As. Zakariyya bertanya kepada Imam As ihwal bagaimana ia berperilaku terhadap bapak, ibu dan anggota keluarga yang lainnya yang masih beragama Kristen. Zakariyyah masih risau dan kuatir lantaran ia masih tinggal bersama mereka serta menyantap makan bersama dengan keluarganya. Read More »
Fenomena Liberalisme merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji, ditelaah, diriset dan kemudian dikritisi. Dalam tulisan ringan ini, kita akan membahas secara global tentang akar sejarah kemunculan Liberalisme dan pada kesempatan berikutnya melontarkan telaah kritis atas fenomena liberalisme dalam dan luar negeri.
Liberalisme merupakan salah satu school of thought yang paling berpengaruh dalam filsafat Barat. Dalam tiga domain, filsafat, ekonomi dan politik kaum liberal menyodorkan pandangan-pandangannya. Dalam ranah politik, Liberalisme menghembuskan nafas kebebasan pribadi dan sosial. Demikian juga pada wilayah ekonomi, pengurangan peran dan kekuasaan pemerintah. Dari sudut pandang pemikiran meyakini bahwa apabila urusan dunia diserahkan kepada proses naturalnya maka seluruh persoalan manusia akan terselesaikan. Pesan utama yang diusung para proponen Liberalisme adalah kebebasan dan pembebasan. Bebas dari segala yang mengikat sehingga segala keinginannya terpenuhi. Membebaskan manusia dari segala tekanan, ancaman dan hambatan yang menghalanginya memenuhi segala keinginannya. Read More »
Doktrin wahdat al-wujud adalah doktrin yang fundamental dalam dunia tasawuf atau irfan (Islamic Mysticism), yang juga menjadi isu yang besar di kalangan para mistikus Islam dan mistikus non-Islam. Dan doktrin ini semakin menemukan bentuknya secara sistematis dalam irfan Ibnu Arabi.
Seperti yang telah dijelaskan dalam paragraf-paragraf sebelumnya bahwa yang real hanyalah Allah; Yang azali dan abadi; wujud yang tunggal hanyalah milik Allah. Alam adalah wujud yang tidak mandiri.
Wujud hakiki, meskipun tunggal tapi memiliki beragam manifestasi. Jadi tidak ada dualitas wujud yaitu antara wujud Khaliq (pencipta) dan wujud makhluk (yang dicipta), tapi keduanya adalah satu wujud. Dengan kata lain wujud yang Hak itu kadang-kadang termanifestasi dalam wujud makhluk dengan menurunkan level dirinya dalam level wujud makhluk. Read More »
Permulaan sejarah Islam akan kembali kepada masa-masa di mana Nabi Muhammad Saw beribadah terhadap Dzat yang dicintainya di gua hira. Nabi Muhammad Saw dalam beberapa waktu lamanya dalam setiap tahun pergi ke gua Hira untuk menyepi dengan Tuhannya dan bertafakur atas segala masalah[1]. Pada suatu hari ketika Muhammad tengah sibuk dengan munajat-munajat yang ia lantunkan, tiba-tiba terdengar suara,
“Wahai Muhammad, bacalah!”
“Apa yang harus kubaca?”
“Iqra, Bismi Rabika ladzi khalaq… “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Qs. al-Alaq 1-5)
Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah Saw, Allah Swt mengutusku supaya menyampaikan bahwa engkau telah diangkat menjadi nabi bagi kaum ini. Read More »
Pada masa Imam Ketujuh, ada seorang miskin, seorang peladang yang tidak terdidik berlaku sangat kasar kepada Imam Musa al-Kazhim As, manakala ia melihatnya. Tanpa memandang betapa kasar orang ini, Imam Musa As sama sekali tidak merasa gusar dan tidak berkata kasar sebagai balasan atas orang itu. Para sahabat Imam Musa bermaksud untuk menghajar orang itu, akan tetapi Imam tidak membolehkan mereka melakukan hal itu. Imam Musa Kazhim As berkata kepada mereka bahwa ia sendirilah yang akan mengajar orang itu. Suatu hari Imam Musa As menunggangi kudanya bertolak menuju ladang tempat orang yang kasar itu bekerja. Tatkala ia melihat Imam Musa As, ia menghentikan kerjanya dan berkacak pinggan, bersiap-siap untuk berlaku kasar kembali. Read More »
Pada masa Imam Ketujuh, Imam Musa al-Kazhim As, penguasa yang memerintah ketika itu adalah seorang penguasa yang keji dan kejam yang bernama Harun, penguasa yang tidak mendengarkan saran dan nasihat Imam Musa al-Kazhim As. Suatu hari, Harun ar-Rasyid datang berkunjung ke Madinah tempat Imam Musa berkediaman. Manakala ia pergi ke makam Rasulullah Saw, ia berkata, “Salam padamu Ya Rasulullah! Salam padamu wahai saudara sepupu.”
Harun ar-Rasyid berkata demikian lantaran ia hendak menunjukkan kepada orang-orang bahwa ia layak menjadi khalifah karena datuknya adalah Abbas, paman Rasulullah Saw. Imam Musa As juga hadir di masjid kala itu dan ia pergi ke makam Rasulullah Saw dan berkata, “Salam padamu wahai Rasulullah! Salam padamu wahai ayah.” Read More »
Suatu hari, kala Imam Ketujuh, Imam Musa al-Kazhim masih berusia 5 tahun, salah seorang murid ayahnya yang bernama Abu Hanifah datang berkunjung untuk bertanya beberapa masalah kepada ayah Imam Musa al-Kazhim As.
Imam Keenam, ayah Imam Musa al-Kazhim, Imam Ja’far as-Shadiq sedang sibuk bersama dengan tamunya yang lain dan Abu Hanifah diminta menunggu untuk beberapa waktu.
Lalu, ia melihat Imam Musa al-Kazhim As sedang bermain dengan seekor binatang. Ia berkata kepada binatang tersebut, “Bersujudlah kepada Allah yang telah menciptakanmu.”
Abu Hanifah bertanya-tanya apakah si bocah belia ini akan menjadi imam selanjutnya. Ia memutuskan untuk bertanya kepada Imam Musa al-Kazhim As beberapa pertanyaan. Abu Hanifah berkata kepada Imam belia, “Bolehkah aku ajukan sebuah pertanyaan kepadamu?” Read More »